Riset Tato, Berbuah Prestasi
*Ady Rosa, Presentator Terbaik Dalam RUKK
SATU lagi urang awak berhasil terpilih sebagai salah satu dari enam orang presentator terbaik Indonesia dalam Riset Unggulan Kemasyarakatan dan Kemanusiaan (RUKK) ke II yang merupakan program dari Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia, beberapa waktu lalu.
Ia adalah Ady Rosa, peneliti sosiokulutural yang juga pengajar di Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Bung Hatta (UBH), dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol.
Hal ini semakin membuktikan bahwa, eksistensi urang awak dalam beberapa bidang terutama Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) di kancah nasional masih terus menyala terang.
Menurut Ady Rosa yang juga alumnus Pascasarjana Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, pengakuan tersebut diperolehnya melalui makalahnya yang dibacakan pada Seminar Hasil Akhir RUKK II- nya yang berjudul "Analisis Semiotik: Fungsi dan Makna Tato Serta Implikasinya Pada Perilaku Budaya Masyarakat".
Di sini, Ady berhasil mengungkapkan bagaimana tato itu merupakan salah satu bagian dari budaya bangsa Indonesia bahkan yang paling tua di dunia. Bagaimana pula kemudian ia menjelaskan perbedaan goresan, makna serta norma adat yang mengikat dari setiap gambar tato yang dipercayai masing-masing daerah penganut seperti di Mentawai, Dayak, dan Sumba.
Ia mengaku, sebenarnya penelitian tentang itu telah dimulainya sejak kurang lebih sepuluh tahun, atau dua tahun sebelum ia mengajukan proposal penelitian ke Kementerian Ristek tahun 1996.
Ady Rosa mulai melakukan riset mengenai tato sejak ia masih di Pascasarjana ITB, namun ketika itu tulisannya masih membahas seputar eksistensi dari tato tersebut sebagai salah satu karya seni rupa tradisional masyarakat Mentawai.
Barulah ketika proporsalnya berhasil lolos di kementerian Ristek, ia meneliti lebih jauh dan dalam ruang lingkup yang lebih luas juga. Tak heran, jika beberapa kalangan menjulukinya "Jenderal Tato" atau "Kepala Suku".
Waktu itu, kata Ady, ada sekitar 325 buah proposal penelitian masuk ke Kemterian Ristek. Namun setelah melalui beberapa penyaringan, hanya enam yang berhasil lolos dan itu termasuk proposal miliknya. Berangkat dari keberhasilannya tersebut , rencananya Ady Rosa akan mendapat kesempatan dari Kementerian Ristek untuk melakukan penelitian lebih jauh tentang tato di Indonesia bagian timur pada tahun 2006 hingga 2007 nanti.
Dan setelah itu, jika ia berhasil menulis buku tentang tato dalam budaya masyarakat Indonesia, maka sepertinya ia layak mendapat penghargaan international, sebab buku itu akan menjadi buku kedua di dunia setelah "MOKO, The Art and History of Maori Tattooing" yang ditulis pertama kali oleh Champman dan Hill di London pada tahun 1896.
sumber: padangekspres.com, Rabu, 29-Desember-2004