 |
 |
 |
 |
 |
|
Mar 8, 2005
Geliat Media Kampus SKK Ganto UNP
* Gelar Pelatihan Jurnalistik dan Lomba Foto
Jurnalisme telah menjadi bagian terpenting dari kebutuhan utama manusia. Bahkan jurnalisme sebagai jembatan komunikasi antara objek berita dengan konsumen informasi kini menjadi trend dan bisnis terkemuka.
Pendapat Ketua Umum Surat Kabar Kampus (SKK) Ganto UNP, Yelfi Rahma Nora ini berkorelasi dengan kian berkembangnya bisnis media baik lokal maupun nasional. Perambahan globalisasi media di segala lini kini terkait erat dengan kedekatan publik dengan pemerintahan, kedekatan dunia usaha dengan konsumen produk hingga menjadi penyeimbang setiap persoalan yang mengemuka di publik saat ini.
Sebagai media kampus, SKK Ganto tetap eksis di usianya 16 tahun. Usia transisi menuju kedewasaan. Dukungan kampus sendiri sejak awal berdir hingga kini terus mengalir. Ini yang membahagiakan bagi Ganto.
Media kampus lain boleh saja terus mengeluh akibat kurangnya dukungan finansial kampusnya, tetapi Ganto dengan penunjukan kapabilitas para pengelolanya selalu dipercaya oleh Senat Universitas.
Unik, media kampus yang satu ini memang terus-menerus berkarya. Regenerasi terus berjalan. Setiap tahunnya, media kampus ini memberikan peluang bagi mahasiswa untuk ikut menjadi pengelola, tentunya dengan persyaratan dan tes-tes tertentu.
Regenerasi yang baik membuat SKK Ganto terus menelurkan para calon jurnalis yang handal. Walau tentu tidak semua lulusan memilih berperan di dunia media, tetapi lulusan Ganto yang tercatat bekerja dan eksis di media lokal dan nasional tidak pun sedikit.
"Kita terus menjalin komunikasi dengan para senior. Jalinan komunikasi ini pulalah yang menjadikan hujan kritik kita sambut dengan berbagai perbaikan dan perubahan. Mulai dari performansi tampilan hingga warna pemberitaan tiap saat kita evaluasi ulang. Alhamdulillah di 2005 ini media kita mendapat respon yang baik dari pembaca internal dan eksternal UNP," ungkap Yelfi diamini para kru Ganto yang lain.
Setiap tahunnya, Ganto melepas belasan kru yang telah dibekali dengan keterampilan jurnalistik. Rata-rata standar pelatihan yang dimiliki berstrata tingkat lanjut. Tingkat Lanjut ini adalah pendidikan akhir dari setiap pengelola media kampus.
Artinya, papar Yelfi para lulusan telah mempunyai keterampilan dan kemampuan jurnalistik dasar; penulisan berita, feature hingga fotografi. Keterampilan menengah; berita investigasi, indeep news sampai fotografi jurnalistik. Sampai akhirnya tingkat lanjut dengan penguasaan materi pengelolaan media, manajemen organisasi media hingga entrepreneurship media.
Media Terbaik
Dalam catatan sejarah perkembangannya, SKK Ganto berkali-kali menerima penghargaan sebagai media kampus terbaik. Di era keemasannya tahun 90-an SKK Ganto bahkan meraih Juara II Media Kampus Terbaik Nasional. Kala itu masih sedikit dilampaui nilainya oleh Media Kampus UGM, Bulaksumur.
2005 ini, Ganto kembali menguatkan tekad menjadi media kampus terbaik di Indonesia. Meski secara nasional, penilaian tidak lagi diperlombakan secara resmi, tetapi Ganto kini berupaya menjalin link dan kerjasama dengan berbagai pihak lokal dan nasional.
Kemampuan mencetak sebuah tabloid bulanan yang rutin patut diacungkan jempol. Betapa tidak, di tengah kesibukan perkuliahan yang padat serta rutinitas organisasi lainnya, Ganto tetap mampu berkarya dan mengembangkan diri. Ekspansi informasi terus dilakukan. Kini, ranah pelatihan dan pendidikan jurnalistik juga dilirik.
Diklat Nasional
Tantangan pengurusan 2004-2005 ini memang cukup besar. Selain persoalan regenerasi yang sedang jalan, Agustus mendatang rencananya SKK Ganto akan menggelar iven nasional yang akhir-akhir ini absen di Sumatera Barat. Iven tersebut adalah Pelatihan Keterampilan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional.
Akan diundang pembicara tamu dari pusat yang akan membahas secara mendetail tentang jurnalistik umum dan jurnalistik kampus secara mendalam. Pembicara dari media-media nasional itu sengaja didatangkan untuk lebih memprofesionalisasi peserta Pelatihan.
"Kita sedang kontak tokoh-tokoh pers nasional untuk dapat datang ke Padang saat itu. Lalu, kita juga akan menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan kedatangan kawan-kawan peserta dari luar, Sumatera dan Jawa bahkan Papua. Diperkirakan sekitar 200 peserta akan meramaikan kegiatan ini," ungkap Panitia Pelatihan.
UNP sendiri sebagai kampus yang peduli dan berperan penuh dengan kegiatan kemahasiswaan telah menjanjikan alokasi dana sepertiga dari total pembiayaan. Sedangkan lebihnya, panitia saat ini tengah mengusahakan sponsorship.
Selain Pelatihan, berkat dukungan Museum Adytiawarman, selaku lembaga resmi pelestarian kebudayaan Sumatera Barat juga mendukung Lomba Fotografi yang digelar serentak dengan tema acara Pelatihan yang terpayung dalam Gebyar 16 tahun SKK Ganto.
"Kita akan sukseskan seluruh kegiatan ini. Para senior dan lulusan akan kita undang khusus untuk rembuk saran jelang kegiatan berlangsung," janji Yelfi Rahma Nora.
sumber: padangekspres, Kamis (16/6)
Posted at 04:49 pm by ALUMNI-UNP
Permalink
Feb 13, 2005
Benny Utama Pimpin ILUNI UNP Pasaman
WAKIL Bupati Pasaman Benny Utama SH MM, yang juga memimpin Partai Golkar Kabupaten Pasaman dipercaya menjabat sebagai Ketua ILUNI UNP untuk kabupaten Pasaman.
Benny resmi dilantik menjadi Ketua ILUNI (Ikatan Alumni) UNP Kabupaten Pasaman. Pelantikan Benny beserta pengurus ILUNI lainnya oleh Rektor UNP Padang, Prof, Dr.Z. Mawardi Effendi, MPD, di Gedung Syamsiar Thaib, Lubuk Sikaping.
Kehadiran Benny sebagai ketua Iluni UNP, disambut antusias para guru-guru di Kabupaten Pasaman. Karena kiprah Benny dalam membina kemajuan Pendidikan di Kabupaten Pasaman, sudah banyak dirasakan. Termasuk soal perhatiannya terhadap kesejahteraan para pendidik di daerah ini.
Dalam kesempatan pelantikan tersebut, Rektor UNP, Mawardi Effendi, menaruh harapan besar kepada Benny, di tangan Benny diharapkan, kiprah alumni UNP tidak sebatas di depan kelas saja. Lebih dari itu, hendaknya UNP juga mampu berkiprah di pelbagal lapangan pekerjaan, termasuk mengisi struktur yang terdapat dalam tatanan pemerintahan Kabupaten Pasaman.
Usai acara pelantikan, panitia menggelar seminar sehari, bertajuk Paradigma Pendidikan Kabupaten Pasaman, dalam menghadapi Era Global. Tampil sebagai pemakalah, Rektor UNP, Prof Z Mawardi Effendi MPd, sedangkan pembanding tampil Prof, Dr. A. Muri Yusuf, MPd, mantan rektor UNP.
Benny Utama yang dihubungi seusai pelantikan mengatakan merasa terharu dengan amanah tersebut. Saya merasa jabatan itu sangat terhormat dan membuatnya tersanjung. Namun ujar sosok muda potensi ini, dalam hal berhadapan dengan guru, bukan hal baru dan asing baginya.
Bagi saya guru bukanlah hal asing. Sebab, sedari kecil saya memang sudah dibina dan dibesarkan di lingkungan pendidik. Apalagi mama saya adalah seorang guru. Sehingga, membaur dengan guru bukanlah yang aneh bagi saya, ujarnya. Jabatan baru itu, menambah deretan jabatan yang dipercayakan kepada Benny saat ini, selain Wakil Bupati Pasaman, dan Ketua DPD II Golkar Pasaman.
Selanjutnya Ketua Konida II Pasaman, Ketua Badan Narkotika (BNK) Kabupaten Pasaman, wakil ketua Pengda PSSI Sumbar, Ketua Porbi Pasaman, Penasehat dan majelis Pertimbangan disejumlah organisasi kepemudaan, sebut saja KNPI Sumbar, KNPI Pasaman, Pemuda Pancasila, termasuk jabatan ketua, penasehat, dewan penyantun di berbagai organisasi dan lembaga sosial serta keagamaan.
Menurut ketua Panitia seminar dan pelantikan Iluni UNP, Drs. Sewan, bahwa selain ajang untuk bersilaturrahmi sesama Alumni UNP, ILUNI UNP juga diharapkan dapat menjadi mitra Pemerintah Daerah untuk memacu dunia pendidikan di Kabupaten Pasaman. Banyak artian yang positif dari keberadaan ILUNI UNP ini, tegas Sewan, didampingi Kepala Dinas Dikijar Pasaman, Drs. Armadanel. ***
sumber: padangekspres.com, Senin 4 Oktober-2004
Posted at 01:49 pm by ALUMNI-UNP
Permalink
Feb 12, 2005
10 Relawan UNP Kembali
Sebanyak 10 orang relawan UNP tahap I telah kembali dengan selamat di Padang. Relawan yang pulang tersebut, digantikan dengan 22 orang relawan tambahan yang juga telah diberangkatkan beberapa waktu lalu.
Viniko, Rechi Antara, Maizon, Rahmad Hidayat, Charlie M, Zalmasri, Abrar, Doni Saputra, Jefri dan Benni Chandra kembali ke UNP. Para relawan mahasiswa ini mengaku masih banyak tugas kemanusiaan di Aceh saat ini. belum semua jenazah korban bisa dievakuasi.
Tim UNP yang awal berangkat ini setibanya di Bandara Polonia Medan, langsung melapor dan didata di satkorlak bencana yang ada di Bandara Polonia Medan. Dari Polonia mereka kemudian berangkat dengan Hercules TNI AU menuju Banda Aceh.
Di Banda Aceh mereka kemudian bergabung dengan tim ICRC Jakarta yang telah lebih dahulu mendirikan posko di sana. Selanjutnya mereka pun mendirikan empat tenda yang sengaja dibawa dari Padang sebagai posko relawan UNP di Banda Aceh.
”Kami mengevakuasi mayat di sana. Sementara, urusan pengungsi dan korban selamat diserahkan ke tim kesehatan. Relawan UNP kebagian tugas mengumpulkan dan mengidentifikasi mayat-mayat yang ditemukan,” cerita Rechi, sekretaris tim relawan UNP, kemarin di kampusnya.
Bersama dengan anggota tim yang kembali Rechi menyatakan masih ada keinginan untuk kembali dan melaksanakan tugas kemanusiaan di sana. Hanya saja, keterbatasan tenaga dan tanggung jawab kuliah membuat mereka harus kembali.
Sementara tim I masih meninggalkan 12 anggota yang lain di Banda Aceh. 12 orang tim ini ternyata beranggotakan mahasiswa tiga orang. Lili, Indra Susanti, dan Desi Oktaviani masih bersikeras untuk tetap di lokasi sampai waktu yang belum ditentukan.
Mereka masih ingin menyumbang tenaga untuk kepentingan kemanusiaan. Tim yang dikoordinir oleh KSR-PMI UNP ini mengaku, di Banda Aceh dan sekitarnya telah berjalan koordinasi antarrelawan. Di sana, mereka difasilitasi untuk bekerja dan diberikan kelengkapan serta ransum.
Alhasil, tim II yang juga telah sampai di sana dapat fokus untuk langsung ke lapangan.
Di Banda Aceh sendiri tim mahasiswa telah lebih dahulu dipioniri oleh tim relawan Institut Teknologi Medan (ITM). Hanya selang beberapa hari usai tsunami tim ini membuka posko di sana.
Tim UNP termasuk tim yang baik koordinasinya. Selain bekerja dengan ulet mereka juga dikenal banyak berkomunikasi dengan relawan lain. Tim yang pandai ”maota” ini pun cepat dikenal. Sehingga, tak jarang relawan asing pun lebih suka berkomunikasi dengan para mahasiswa ini.
Relawan UNP pun mengaku salut dengan cara kerja tim relawan asing. Selain ulet, terkoordinasi, tim asing dilengkapi dengan fasilitas yang serba canggih dan safety.
Menurut Alfirman, Senior dan koordinator relawan saat ini akan diseleksi kembali relawan tahap ketiga untuk dikirim. Hanya, tim UNP juga sedang menunggu donasi yang akan mensupport keberangkatan mereka tersebut.
”Jika ada donasi kita segera berangkatkan. Tetapi, walaupun nanti tidak ada kita tetap akan kirimkan dengan biaya yang masih ada,” pungkas Alfirman.
Sumber: padangekspres.com, Jumat, 14-Januari-2005
Posted at 10:04 pm by ALUMNI-UNP
Permalink
Alumni FPOK Dukung Pemberantasan Pekat dan Togel
ALUMNI Fakultas Pendidikan Olahraga Keguruan (FPOK) Universitas Negeri Padang di Jakarta mendukung tindakan tegas Pemerintahan Kota Padang dalam membasmi berbagai penyakit masyarakat Padang Kota Tercinta.
Hal tersebut disampaikan Derianton usai buka puasa bersama alumni FPOK di Aula Kantor Penghubung Pemerintah Provinsi Sumatera Barat di kawasan Matraman, Jakarta Timur, Sabtu (23/10).
"Para alumni mendukung sepenuhnya upaya-upaya Wali Kota Padang dalam memerangi narkoba, judi togel, prostitusi dan penyakit masyarakat lainnya karena hal tersebut selain dilarang agama juga dapat meresahkan masyarakat kota," ujar Derianton.
Selain memberikan dukungan penuh terhadap kebijakan pemerintah kota tersebut, Derianton yang berpangkat Kapten Marinir itu, juga menghimbau agar segenap alumni FPOK yang saat ini berdomisili di Kota Padang agar bahu-membahu dengan Pemerintah Kota Padang dalam menciptakan situasi yang lebih tenang dan kondusif.
"Demikian juga dengan adik-adik yang saat ini masih berstatus mahasiswa di Universitas Negeri Padang, mereka juga kami minta untuk turut mendukung upaya-upaya yang saat ini dilakukan Wali Kota Padang dalam membasmi penyakit masyarakat itu. Setidaknya para mahasiswa dapat membersihkan lingkungan kampus dan tempat tinggalnya masing-masing dari narkoba, judi togel, prostitusi," ujarnya.
Jangan sebaliknya, tegas Derianton. "Kami sangat menyesalkan jika nanti ditemukan ada diantara mereka yang justru terlibat dengan penyakit masyarakat yang bahkan mereka lakukan di lingkungan kampus atau tempat tinggalnya. Ini sangat memalukan almamater".
Menurut Derianton, apa pun upaya-upaya positif pemerintah dalam memperbaiki kehidupan masyarakat tanpa ditunjang sepenuhnya oleh berbagai lapisan masyarakat, upaya itu akan sia-sia belaka.
Untuk itu, ujarnya, pemerintah kota juga harus punya kemampuan komunikasi yang tinggi dengan masyarakat dan aparat terkait lainnya agar pekerjaan-pekerjaan yang dinilai baik itu dapat dipahami oleh warga kota secara komprehensif.
Derianton menambahkan, komunikasi yang berlandaskan kaedah-kaedah estetika dan etika harus kita bangun sedini mungkin. "Jika etika dan estetika ini dikesampingkan, komunikasi yang berlangsung pasti tidak efektif dan sasaran tidak akan pernah tercapai secara maksimal," tegasnya.
Soal pemberantasan penyakit masyarakat, ujarnya, bukan saja tanggungjawab pemerintahan kota. "Secara kontekstual, itu adalah tanggungjawab kita bersama guna membasminya. Artinya tidak ada yang perlu merasa bahwa institusinyalah yang lebih berkompeten dalam memeranginya. Semua masyarakat harus dilibatkan secara aktif memerangi penyakit masyarakat itu. Yang kita perlukan adalah harus ada institusi yang mengambil inisiatif melakukan itu", tegasnya.
sumber: padangekspres.com Senin, 25-Oktober-2004
Posted at 09:13 am by ALUMNI-UNP
Permalink
Riset Tato, Berbuah Prestasi
*Ady Rosa, Presentator Terbaik Dalam RUKK
SATU lagi urang awak berhasil terpilih sebagai salah satu dari enam orang presentator terbaik Indonesia dalam Riset Unggulan Kemasyarakatan dan Kemanusiaan (RUKK) ke II yang merupakan program dari Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia, beberapa waktu lalu.
Ia adalah Ady Rosa, peneliti sosiokulutural yang juga pengajar di Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Bung Hatta (UBH), dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol.
Hal ini semakin membuktikan bahwa, eksistensi urang awak dalam beberapa bidang terutama Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) di kancah nasional masih terus menyala terang.
Menurut Ady Rosa yang juga alumnus Pascasarjana Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, pengakuan tersebut diperolehnya melalui makalahnya yang dibacakan pada Seminar Hasil Akhir RUKK II- nya yang berjudul "Analisis Semiotik: Fungsi dan Makna Tato Serta Implikasinya Pada Perilaku Budaya Masyarakat".
Di sini, Ady berhasil mengungkapkan bagaimana tato itu merupakan salah satu bagian dari budaya bangsa Indonesia bahkan yang paling tua di dunia. Bagaimana pula kemudian ia menjelaskan perbedaan goresan, makna serta norma adat yang mengikat dari setiap gambar tato yang dipercayai masing-masing daerah penganut seperti di Mentawai, Dayak, dan Sumba.
Ia mengaku, sebenarnya penelitian tentang itu telah dimulainya sejak kurang lebih sepuluh tahun, atau dua tahun sebelum ia mengajukan proposal penelitian ke Kementerian Ristek tahun 1996.
Ady Rosa mulai melakukan riset mengenai tato sejak ia masih di Pascasarjana ITB, namun ketika itu tulisannya masih membahas seputar eksistensi dari tato tersebut sebagai salah satu karya seni rupa tradisional masyarakat Mentawai.
Barulah ketika proporsalnya berhasil lolos di kementerian Ristek, ia meneliti lebih jauh dan dalam ruang lingkup yang lebih luas juga. Tak heran, jika beberapa kalangan menjulukinya "Jenderal Tato" atau "Kepala Suku".
Waktu itu, kata Ady, ada sekitar 325 buah proposal penelitian masuk ke Kemterian Ristek. Namun setelah melalui beberapa penyaringan, hanya enam yang berhasil lolos dan itu termasuk proposal miliknya. Berangkat dari keberhasilannya tersebut , rencananya Ady Rosa akan mendapat kesempatan dari Kementerian Ristek untuk melakukan penelitian lebih jauh tentang tato di Indonesia bagian timur pada tahun 2006 hingga 2007 nanti.
Dan setelah itu, jika ia berhasil menulis buku tentang tato dalam budaya masyarakat Indonesia, maka sepertinya ia layak mendapat penghargaan international, sebab buku itu akan menjadi buku kedua di dunia setelah "MOKO, The Art and History of Maori Tattooing" yang ditulis pertama kali oleh Champman dan Hill di London pada tahun 1896.
sumber: padangekspres.com, Rabu, 29-Desember-2004
Posted at 09:05 am by ALUMNI-UNP
Permalink
Feb 11, 2005
bissmilillahirrahmanirrahim
Posted at 09:54 pm by ALUMNI-UNP
Permalink
|
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
 |
|
 |